Friday, September 16, 2016

7500 miles away (part 2)


Salah satu destimasi yang wajib dikunjungi kalau ke Geneva adalah Chamonix. Chamonix sebenarnya sudah masuk wilayah negara Perancis, tapi jarak dari Geneva hanya 1,5 jam perjalanan. Sama laah seperti Jakarta-Puncak kalau ngga macet. Kenapa wajib dikunjungi? Karena pemandangan dan suasananya bagus banget! Dari kota Chamonix, kita bisa melihat pucuk gunung Mont Blanc yang diselimuti salju. Sambil berjalan-jalan di perkotaan dengan suasana yang "Perancis banget" sambil menikmati Mont Blanc. Priceless!

Di Chamonix juga ada wahana luge atau bob slide, bisa naik ke gunungnya juga dengan menggunakan kereta gantung. Tapi kami hanya jalan-jalan di kota saja, tidak naik ke gunung karena menurut petugas visibilitynya jelek, jadi sayang kalau sudah naik tapi tidak kelihatan apa-apa. Karena sudah masuk wilayah Perancis, mata uang yang berlaku di Chamonix adalah Euro dan harga makanan dan barang-barang di sini juga lebih murah daripada di Swiss. Pokoknya kalau ke Geneva, wajib ke Chamonix ya!

10.000 feet above the sea

Tujuan utama kami ke Swiss sebenarnya mau ke Glacier 3000, tempat wisata baru yang terletak di gunung Les Diablerets. Didasari oleh jiwa "anak gunung" Ayahnya Kira dan jiwa nekat Ibunya, Kira dibawa ke ketinggian 2.791m di atas permukaan laut. Suhu di puncak mencapai 1'C dengan kecepatan angin 15km/h. Karena teriknya matahari, sebenarnya udara tidak terasa terlalu dingin. Tapi angin di atas sangat kencang. Kami selalu nyaris terbang setiap ada angin kencang. Dan udara jadi dingin sekali setiap angin kencang berhembus.

"Gila tega banget lo, Zik bawa anak segede upil ke gunung", ini tanggapan salah satu teman saya waktu tau kami membawa Kira ke gunung (bersalju pula!). Untungnya punya anak baik dan sangat kooperatif. Setiap ada angin kencang, Kira selalu kedinginan dan memeluk Ayahnya (karena digendong Ayah selama perjalanan di gunung). Kami sempat khawatir Kira kedinginan. Tapi kekhawatiran kami ditepis mentah-mentah oleh Kira. Beberapa kali diterpa angin dan meluk-meluk Ayah, lama-lama Kira keenakan dan malah tidur. Ah, ini anak emang nyenengin.

Ini adalah pengalaman pertama kali kami hiking di medan salju. Selama perjalanan Kira digendong Ayah sambil diselimuti jaket windbreak agar tidak terlalu kedinginan kalau diterpa angin. Perjalanan kaki ditempuh sejauh kurang lebih 6km untuk mencapai ujung gunung yang ada restoran kecilnya. Lebih tepatnya warung sih. Semacam cabin yang terbuat dari kayu dengan pemandangan yang luar biasa. Tapi, harga makanannya juga luar biasa. Satu gelas kecil hot chocolate harganya 5.5CHF atau 76.500 rupiah. Tapi berhubung dingin dan lapar, apa saja kami sikat. Waktu Kira masuk ke restoran, pemiliknya sempat menanyakan umurnya. Waktu kami bilang 15 bulan, dia sempat kaget. "15 months? In this altitude already?" katanya. Ya guess she's one very lucky girl.

Sebelum keenakan a.k.a. ketiduran

Pakaian yang dipakai Kira selama di gunung bisa dibilang tidak terlalu tebal. Untuk atasan, Kira pakai satu lapis heat-tech, cardigan rajut dan jaket. Bawahannya Kira pakai celana heat-tech dan jegging. Ditambah dua lapis kaoskaki tipis dan sepatu. Harusnya Kira pakai sarung tangan, tapi kami belum berhasil menemukan sarung tangan untuk tangan mungil Kira. Alhasil selama di atas gunung tangan Kira didekap Ayahnya di dalam jaket windbreak.

Pemandangan dari atas benar-benar luar biasa. Dengan skill fotografi kami yang ala kadarnya, hasil jepretan kamera jauuuh banget dari aslinya. Aslinya benar-benar bikin speechless.




About Amsterdam
Kami punya rekomendasi tempat menginap yang enak di Amsterdam. Namanya Motel One Amsterdam. Letaknya sangat strategis di sebrang Amsterdam Rai, semacam hall yang sering digunakan untuk pameran, konser atau acara besar lain. Seperti JCC Senayan mungkin ya. Harganya sangat ramah di kantong, start from 65 Euro. Hanya perlu waktu sekitar 20 menit dari Schipol ke stasiun Amsterdam Rai, kalau tidak salah hanya 2 atau 3 stop. Dari stasiun Amsterdam Rai ke hotel pun hanya 3 menit jalan kaki.

Oh ya, we luckily got our stroller back in Amsterdam! Jadi bisa deh review soal keramahan kota ini akan stroller dan wheelchair. Kalau saya belum pernah ke Jepang, saya akan bilang kota ini cukup stroller/wheelchair friendly. Tapi kalau dibandingkan sama Jepang, menurut saya fasilitasnya masih sangat jauh di bawah Jepang. Di Jepang, di semua stasiun tersedia beberapa lift dan di semua tempat setiap ada tangga pasti ada jalanan rata untuk stroller dan wheelchair. Sedangkan di Amsterdam, beberapa stasiun tidak ada jalanan rata untuk stroller/wheelchair. Walaupun tangga yang biasanya tidak ada jalan ratanya hanya beberapa anak tangga, 4 sampai 5 anak tangga, tapi tetap lumayan menambah kerjaan. Jalanan trotoar di Amsterdam juga lebih banyak yang kasar dan tidak rata. Kalau di Jepang hampir semua mulus-mulus. Fasilitas menyusui di Eropa juga tidak sebaik di Jepang. Di Eropa, di setiap toilet umum pasti ada changing table untuk bayi, tapi tidak di semua tempat ada ruangan untuk menyusui. Kalau di Jepang, ruangan untuk menyusui tersebar dimana-mana.

Hal lain yang terlihat sepele tapi ternyata penting adalah kenyamanan saat menyebrang jalan. Di Amsterdam, kendaraan pribadi yang biasa digunakan masyarakat adalah mobil, motor (scooter) dan sepeda. Jumlah sepeda di jalan raya di Amsterdam banyak sekali. Kendaraan bermotor seperti mobil dan vespa di Amsterdam bisa dikatakan cukup behave, tapi pengendara sepedanya brutal-brutal. Kalau pejalan kaki mau menyebrang jalan, semua kendaraan bermotor akan memberi jalan pada penyebrang jalan. Sayangnya sepeda tidak termasuk kendaraan bermotor jadi tetap bablas ngebut aja walaupun ada yang mau nyebrang.

What comes after the trip?
Setelah diawali dengan kelabakan bikin visa dan stroller hilang, drama di akhir perjalanan adalah jetlag. Waktu sampai di Eropa, saya sudah bertekad tidak mau mengubah jam tidur Kira. Biar saja Kira tidur jam 3 atau 4 sore disana dan bangun jam 3 pagi. Menurut saya, lebih baik capek dan kurang tidur selama liburan daripada harus menghadapi Kira jetlag waktu di Jakarta. Tapi apa mau dikata, di usia Kira sekarang (15 bulan), Kira sudah "tau" main dan jalan-jalan. Hari pertama dan kedua Kira tidur jam 4 sore. Di hari ketiga, waktu kami ke Chamonix, sebenarnya jam 4 Kira sudah ngantuk banget, tapi sepertinya terpukau dengan suasana Chamonix. Jadilah ngga tidur-tidur sampai jam 7, yang berarti di Jakarta sudah jam 12 malam. Besok paginya, Kira bangun jam 7 pagi atau jam 12 WIB. Semakin hari semakin mundur, sampai akhirnya jam tidur Kira berubah settingan jadi jam 8 malam waktu setempat. 01.00 WIB? Oh, God. How shall I deal with this?

Malam pertama di Jakarta sudah pasti, jam 12 malam masih seger nari-nari. Dari jam 8 malam lampu kamar sudah digelapkan, saya dan suami juga sudah pura-pura tidur (sampai akhirnya ketiduran beneran). Kira sempat tidur jam 8.30 tapi jam 10.30 terbangun dan seger ngajak main. Untungnya saya dan suami juga masih jetlag, jadi ngga terlalu ngantuk. Awalnya waktu Kira terbangun jam 10.30 kami masih pura-pura tidur. Tapi hari itu malam takbiran Idul Adha, jadi suara takbir berkumandang dan Kira ikutan takbiran.

Esok harinya, tepatnya di hari raya Idul Adha, kami sampai skip solat Ied karena menurut orang rumah ngga bisa dibangunin. Saya dan suami baru kebangun jam 8 pagi waktu orang rumah pulang dari masjid dan Kira masih lelap. Saya dilema mau bangunin Kira atau engga. Kalau ngga dibangunin nanti malam begadang lagi dan jam tidurnya ngga beres-beres, kalau dibangunin kasihan. Akhirnya karena harus kumpul lebaran di rumah saudara, jam 8 pagi saya bangunkan Kira, kemudian saya jemur di bawah sinar matahari. Salah satu manfaat berjemur di pagi hari adalah dapat membuat tidur lebih berkualitas. Dengan menjemur Kira pagi itu, saya berharap malamnya Kira bisa tidur tanpa terbangun sampai pagi.

Hari itu jam tidur siang Kira sudah normal seperti sebelum liburan. Jam 10 tidur kurang lebih 1 jam, kemudian jam 12 tidur lagi satu jam. Malamnya, jam 7 Kira sudah tidur. Saya lega karena saya pikir jam tidurnya sudah kembali normal. Ternyata eh ternyata, jam 11 malam lagi-lagi Kira terbangun dan segar. Untungnya anak ini baik dan pengertian. Instead of ngajakin main, Kira justru terlihat berusaha kembali tidur. Kira berusaha nenen dan memejamkan mata berkali-kali, sampai akhirnya jam 12 Kira tertidur lagi, tapi besok paginya baru bangun jam 10 pagi macam abg.

Malam ketiga Kira tidur jam 10 malam dan tidak bangun sampai pagi. Yeay! Tapi malam itu maunya tidur dikelonin terus, seperti ngga lelap. Jadi Ibu disandera ngga boleh kemana-mana. Malam berikutnya jam tidur mulai normal, tidur jam 8 malam, walaupun bangunnya masih jam 9 pagi kayak anak smp lagi libur. Ibu juga masih disandera disuruh ngelonin sampai jam 12 baru bisa lepas. Ngga apa-apa deh yang penting sudah ngga kebangun tengah malam.

So how to deal with jetlag?
1. Jangan pulang liburan mepet cuti habis. Sisakan waktu istirahat tambahan di tanah air selama 2-3 hari. Bayangkan kalau besok paginya harus kerja tapi anak masih ngajak main jam 12 malam. Pulanglah 2-3 hari sebelum cuti berakhir.
2. Saat anak terbangun tengah malam, jangan mengajaknya bermain dan menerangkan lampu kamar. Biarkan kamar dalam keadaan gelap dan pura-pura tidur sebagai isyarat bagi anak bahwa saat itu sudah malam dan waktunya tidur.
3. Sesuaikan jam tidur Anda secepat mungkin dengan jam Indonesia untuk memperbaiki jam tidur anak. Jadi, di malam hari Anda bisa tidur dan di siang hari Anda tidak mengantuk untuk mengajak si kecil bermain. Jadi anak bisa mengerti, kapan waktunya main dan kapan waktunya tidur.
4. Kalau Anda punya kebiasaan bersama anak sebelum tidur malam, seperti ganti piyama, membacakan dongeng, membaca doa sebelum tidur atau bernyanyi, lakukan kebiasaan itu meskipun anak belum mengantuk. Ini juga untuk memberitahu anak bahwa saat itu sudah masuk waktu tidur.
5. It's okay to deprive their sleep for a day or two. Walaupun anak tidur larut malam, tetap coba bangunkan pagi harinya. Nanti toh kalau masih mengantuk anak akan tidur siang. Tidak harus terlalu pagi, tapi jangan kesiangan juga. Batas paling siang untuk Kira saya patok jam 9
6. Jemur pagi, katanya sih salah satu manfaat jemur pagi bisa memperbaiki pola tidur. Saya mencoba menjemur Kira di 3 hari pertama dan alhamdulillah pola tidurnya sudah kembali normal di malam ketiga.

Overall
Kalau mau membandingkan Jepang dengan Eropa, untuk liburan dengan bayi menurut saya jauh lebih enak ke Jepang. Pertama, tidak jetlag. Perbedaan waktu antara Jepang dengan WIB hanya 2 jam dan jam terbit dan terbenam matahari di Jepang dan Indonesia kurang lebih sama. Subuh di Jepang variatif tergantung musim, tapi magribnya kurang lebih jam 6-7 sore, beda tipis dengan Indonesia. Sedangkan di Eropa, saat summer subuhnya jam 3-4 pagi dan magrib jam 8-10 malam. Ini sangat mempengaruhi jam tidur Kira. Jam tidur Kira jadi berantakan, both tidur siang dan malam. Biasanya di Jakarta Kira tidur siang sekitar jam 11 atau 12 siang lalu tidur malam jam 7, tapi jam 7 malam di Eropa saat summer masih terang seperti jam 5 sore di Indonesia. Jadi Kira bingung, udah ngantuk tapi masih terang yang berarti masih waktunya main. Alhasil tidur lebih malam - besoknya bangun lebih siang - bingung lagi mau tidur siang jam berapa.

Selain itu, seperti yang sudah saya ceritakan tadi, fasilitas di Jepang jauh lebih stroller dan breastfeeding-friendly. Kenyamanan pejalan kaki di Jepang juga lebih diperhatikan. Oh, one more thing, di Eropa banyaaak sekali orang yang merokok di sembarang tempat. Beberapa tempat umum tidak diberi larangan merokok jadi ya memang sah-sah saja mereka merokok di mana-mana. Di Jepang, jarang sekali saya menemukan orang merokok di pinggir jalan, hampir tidak pernah. Jadi udara di Jepang juga terasa lebih segar dan tidak was-was kalau bawa bayi.

Fyuh. Ok, guess that's all for now. Lagi-lagi, semoga membantu dan menyenangkan untuk dibaca.
XOXO, Kira

No comments

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular

LATEST POSTS

© WANDER WITH KIRA
Maira Gall